Rabu, 30 Desember 2015

Fana dan Sementara

Aku menganggapnya hal yang paling misterius di dunia. Karena memang tidak ada yang tahu selain diri-Nya. Beberapa hari yang lalu, dua dari temanku kehilangan orang yang paling disayanginya.

Aku percaya rencana Tuhan pasti yang terbaik, dan dibalik itu semua pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Hanya saja, aku bukanlah sosok teman yang bisa menghibur dengan sosweet, aku hanya menghibur dengan caraku sendiri dan cara terbaik yang aku tahu adalah dengan mendoakannya agar tetap tegar menghadapi semuanya.

Bagiku, hal tersulit dari ditinggalkan adalah mencoba terbiasa tanpa kehadirannya. Idul Fitri kemarin, aku tidak bisa mencium tangan yangkungku, tidak ada lagi yang bertanya apa aku sudah  makan atau belum.

Tapi dari situ kita bisa belajar, bahwa hidup ini tidak benar-benar selamanya. Bahwa kapanpun dan dimanapun kita bisa saja dipanggil-Nya. Kita memang tidak akan penah tahu kapan kita akan mati, tapi kita bisa memilih bagaimana kita mati. Kita diberi kekuasaan untuk memilih jalan kematian kita. Dengan menjaga diri atau dengan melakukan semau kita. Dengan baik atau dengan buruk.

Mari berdoa semoga saat Dia memanggil kita, Dia memanggil kita dalam keadaan terbaik. Aamiin.

Minggu, 27 Desember 2015

Self Reminder

Setiap orang memiliki masa lalu yang berbeda. Beberapa  tak indah sampai tak ingin diingat-ingat. Beberapa terkenang dan selalu ditunjukkan.

Terkadang apa yang menghambat untuk maju, adalah diri sendiri, atau lebih tepatnya masa lalu itu sendiri. Saat masa lalu itu tak indah, diri kan selalu mengutuk hari ini. Saat masa lalu pun indah, diri merasa puas dan tidak bergerak ke depan.

Tentunya, hari ini adalah hasil dari masa lalu. Dan bagaimanapun juga, cara terbijak untuk menghadapinya adalah dengan mensyukurinya. Bukan dengan mengutuki masa lalu yang sudah terjadi atau tetap bertahan dengan apa yang sudah didapat di masa lalu, karena masa lalu yang menjadikan kita manusia yang sepantasnya mensyukuri hari ini.

Dan sudah seharusnya hari ini, harus lebih baik dari kemarin. Karena pada hakikatnya, the only person you should try to be better than, is the person you were yesterday. Bukan orang lain, tapi diri ini sendiri.

Hari ini, tugas kita untuk lebih baik dari kemarin. Mengusahakannya sebaik mungkin agar esok kita tidak menyesali hari ini. Agar diri selalu dan terus menjadi lebih baik. Berubah, walau terkadang perubahan itu menyakitkan.

Selama itu baik, kenapa tidak?

Kamis, 24 Desember 2015

42443

Di mobil, aku sama ayah lagi rebutan frekuensi radio. Aku maunya prambors, tapi ayah mau yang lain....
Tapi ayah menang....

Awalnya emang gajelas, masih kirim-kirim salam
Terus tiba-tiba ada lagu yang ngena
Pasti tau kan lagunya hadad alwi sama sulis...
Aku paling suka lirik ini

'Hidup bagaikan sebatang pohon...
Lebat bunganya serta buahnya...
Walaupun hidup seribu tahun...
Kalau tak sembahyang apa gunanya...'

Jadi jelas banget, mau sepanjang apapun umur kita nanti, kalo nggak sholat itu semua jadi sia-sia

Semoga aku dan kamu termasuk bagian orang-orang yang menjaga sholatnya, aamiin

Rabu, 23 Desember 2015

Dia tahu dia tidak akan pernah sendiri
Hanya belum terbiasa dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi

Senin, 14 Desember 2015

Tak Pernah Dibiarkan Sendiri


“Lebih baik kau pulang saja, lalu simpan baik-baik mimpi itu di laci kesayanganmu. Aku sedang tak minat berdebat, berdebat saja kau dengan dirimu sendiri. Sampai kau kian tersadar bahwa waktu terus meninggalkanmu tanpa menggubris rengekanmu.” Begitu kata bayangan saya ketika saya meringkuk di pojokan kamar malam itu.
“Ok, fine. Jadi sudah bosan berdebat dengan saya?”
“Bukan bosan, tapi percuma saja. Percuma jika ujung-ujungnya kau tak kunjung melangkah. Percuma berbusa-busa membuatmu sadar tapi kau selalu lebih pandai membuat dirimu sendiri kembali gusar. Kau tidak terlalu butuh pengertian, kau butuh untuk terus mengenali kenyataan.”
“Katanya tak mau debat, ini apa namanya coba?”
“Aku mau pergi saja.”
“Yakin mau pergi?” ledek saya. Saya paham ia hanya menggertak. Bagaimana mungkin bayangan bisa meninggalkan tuannya?
“Iya, aku pergi.”
Sekejap. Ia benar-benar pergi. Menghilang.
Sepanjang malam saya terus dihantui kegelisahan. Saya benar-benar merasa sendirian. Pagi hari ketika saya terbangun, bayangan saya sudah duduk di sebelah ranjang.
“Cie kangen ye, baru pergi semalam sudah balik saja.”
Ia tidak menjawab, matanya terus menatap saya seolah-olah tengah menunggu saya menunjukkan rasa bersalah. Saya sangat merasa bersalah, tapi saya terlalu egois untuk menunjukkan. Gengsi.
“Sudah kewajibanku begini. Menemani kau sepanjang jalan, menemani kau melakukan apa pun yang kau lakukan sampai nanti akhirnya kau dikebumikan. Tapi sayang, kau tak pernah berpikir sejauh itu. Kau terlalu sering merasa seolah-olah kau benar-benar berjuang seorang diri. Tuhan mengirimku untukmu, menemani apa pun situasimu. Tapi sayang kau teramat jarang mengajakku berbincang. Kau selalu lebih suka mengutuki waktu ketika kau sedang tak ada kawan. Kau masih terlalu hobi menyengsarakan dirimu sendiri. Padahal Tuhan tak pernah benar-benar membiarkan siapapun sendirian. Termasuk kau.”

(via jalansaja)

Kamis, 03 Desember 2015

Antara Aku dan Rabb-ku

Saat musibah datang seolah tak pernah selesai, aku bertanya
"Rabb, mengapa hidup ini begitu susah untuk dijalani?"
Tapi tak ada jawaban...

Saat lelah memeluk tubuh rapuhku dan memaksaku berhenti, aku bertanya
"Rabb, tidak adakah jalan dimana aku berdiri tegak tanpa merasa lelah?"
Tapi tetap tak ada jawaban...

Saat di jalan kutemui banyaknya tangan yang menjulur meminta, benakku bertanya
"Rabb, mengapa dunia ini begitu kejam kepada mereka?"
Rabbku belum menjawab...

Saat kulihat kafe-kafe di jalan lebih ramai dibanding masjid, aku bertanya
"Rabb, mengapa hidup penuh kesenangan yang sering kali menyesatkan?"
Rabb-ku masih belum menjawab...

Setelah mendengar kisah Rasulullah dan sahabatnya, aku bertanya lagi
“Rabb, mengapa ada orang yang rela mengorbankan harta dan jiwanya, padahal surga telah menjadi jaminan mereka?”
Rabb-ku tetap tak menjawab...

Saat kubaca kalam-Nya, kutemukan
“Apakah kamu mengira kamu akan masuk ke surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang shabar”
Kudapati Rabb-ku menjawab semua pertanyaanku...