Taqobballahu minna wa minkum!
Kemarin saudaraku main ke rumah. Emang setiap tahunnya rumahku selalu rame karena uti adalah kakak tertua, jadi semua adik beserta keluarga besarnya selalu main tiap lebaran.
Dari awal salam di depan pager, semua langsung nanyain "Hila mana?". Aku yang masih sibuk mencari kerudung instan jadi semakin gopoh karena nggak bisa menemukan dimana-dimana. Dan akhirnya ngambil kerudung tanpa merhatiin warna dan semakin bingung karena nggak ada satu pun peniti di kamar adek. Akhirnya aku menemukan sebuah jarum besar yang biasanya dipake buat hijab-ala-ala. Dan langsung turun ke bawah karena semakin rame om dan tanteku nyari aku.
Dan benar apa yang ada di pikiranku. Mereka semua menanyakan hasil SBMku. Aku menjelaskan panjang lebar tentang SBM dan mandiri, juga tentang masalah pengumuman ujian mandiri yang awalnya keterima jadi enggak. Aku juga cerita tentang semua kenapa pilihanku hanya berkutat di kedokteran aja dan sempat mendapat beberapa pertanyaan yang membuatku berpikir dalam hati "oh iyaya" kemudian aku menepisnya dan berusaha untuk tidak mengandai-andai karena tidak mau merasa tidak besyukur.
Aku berusaha untuk terlihat cool dan berusaha untuk menyamakan apa yang aku ucapkan dengan apa yang ada di dalam hatiku. Aku sedih? Jangan tanya. Tapi aku berusaha untuk sedih sewajar mungkin, karena aku yakin Allah punya sesuatu yang lebih indah dan lebih baik untukku. Walau memang aku belum bisa melihatnya, aku yakin akan ada hikmah yang bisa aku dapat dari semua ini. Kalo kata mas Askar sih "mengumpulkan kegagaln untuk memanen keberhasilan" jadi insya Allah aku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi padaku. Dan sudah banyak yang menjadi saksi bahwa kegagalan di SBMPTN bukanlah segalanya (efek membaca cerita gagal lalu sukses di medsos wkwkwk). Jadi insya Allah apapun nanti hasilnya, apapun nanti yang terjadi, pasti yang terbaik dari Allah.
Tapi juga bukan berarti membenarkan segala kegagalan trus juga nggak usaha cuma minta yang terbaik aja sih. Sepertinya juga harus ada evaluasi diikhtiarnya untuk tahu mengapa dan bagaimana.
Tapi jujur saja, sebenarnya yang membuatku sedih bukan karena belum diterima di mana-mana. Tapi aku sedih melihat kedua orang tuaku sedih.
Keinginanku hanya satu, tahun ini aku nggak boleh nganggur. Bismillah!
Mohon doanya ya kawan!^^
Rabu, 28 Juni 2017
Senin, 20 Maret 2017
aku takjub pada orang yang suka dipuji atas apa yang tak dilakukannya
aku takjub pada orang yang suka dikagumi atas hal yang bukan miliknya
aku takjub pada orang yang merasa benar dengan menyalahkan kawan
aku takjub pada orang yang merasa mulia dengan menghinakan sesama
dan semua itu akan kuringkas menjadi: aku takjub pada diriku sendiri
📓: dalam dekapan ukhuwah karya Salim A. Fillah
Besok Ulangan Sejarah
Hai!
Enaknya aku panggil kamu apa, ya?
Jono? Joni? Joko? Atau Joki?
Bukan apa-apa, bukan karena aku sudah oke. Hanya saja aku takut kamu akan benar-benar merusak. Aku tidak tahu kamu muncul dari mana. Entah dari mereka yang ingin meraih keuntungan darimu atau dari mereka yang sengaja ingin berkenalan denganmu untuk bisa berhasil.
Aku tidak mau generasi kita dibilang seperti "tukang" yang tinggal terima jadi. Yang nggak mau mengolah sesuatu, maunya langsung jadi.
Aku sedih
Dan sedihnya lagi aku cuma bisa nulis disini
Enaknya aku panggil kamu apa, ya?
Jono? Joni? Joko? Atau Joki?
Bukan apa-apa, bukan karena aku sudah oke. Hanya saja aku takut kamu akan benar-benar merusak. Aku tidak tahu kamu muncul dari mana. Entah dari mereka yang ingin meraih keuntungan darimu atau dari mereka yang sengaja ingin berkenalan denganmu untuk bisa berhasil.
Aku tidak mau generasi kita dibilang seperti "tukang" yang tinggal terima jadi. Yang nggak mau mengolah sesuatu, maunya langsung jadi.
Aku sedih
Dan sedihnya lagi aku cuma bisa nulis disini
Rabu, 01 Maret 2017
Hayo, Sudah Rapikah Kamu?
Di sore yang sangat cerah, pada suatu kesempatan yang insya Allah diberkahi Allah
"Aduh, Hil. Mukenahku kebalik, bentar ya," ucapnya sambil buru-buru membenarkan mukenahnya.
"Halah gapapa wah, kan gaada yang lihat," ucapku santai--terlalu santai.
"Bukan gitu, Hil."
"Terus?"
"Kita kan kalo keluar rumah bajunya rapi, wangi, bagus. Padahal cuma mau ketemu temen. Masa mau ketemu Allah gini?"
"..."
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang saat menghadap-Nya suatu saat nanti, dalam keadaan dan kondisi yang terbaik, aamiin.
Sabtu, 31 Desember 2016
Jangan, Ya Allah
Allahumma laa taj'alid dunya akbara hamminaYa Allah, janganlah Kau jadikan urusan dunia itu sebagai kegelisahan terbesar bagi kami
Jumat, 09 Desember 2016
Selasa, 15 November 2016
Namanya juga Manusia
namanya juga manusia
tempatnya salah
tapi maunya dianggap bener
namanya juga manusia
lupa bersyukur
sukanya ngeluh terus
namanya juga manusia
kalo diingetin
malah nyalahin balik
namanya juga manusia
bilangnya khilaf
tapi besok diulangi lagi
namanya juga manusia...
astaghfirullah...
"Beri ruang untuk orang lain berbuat salah, nak. Dengan begitu kita akan menjadi seorang yang pemaaf dan sabar,"
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Aku sudah pernah bilang, jalan ini tidaklah mudah. Jangan sedih kawan, perjalanan ini tidak pernah menjanjikan jalan yang mulus tanpa rint...
-
Oh, jadi begini rasanya. Ternyata memilih jauh lebih susah dari pada menjadi sebuah pilihan. Apalagi untuk memilih seorang pemimpin. Berk...
-
Saat musibah datang seolah tak pernah selesai, aku bertanya "Rabb, mengapa hidup ini begitu susah untuk dijalani?" Tapi tak a...