Jumat, 29 November 2019

Aku sangat berterima kasih kepada mereka yang selalu membersamai langkahku. Ada saat aku susah maupun senang. Sama-sama menangis dan tertawa pada setiap kebodohan yang kita atau lebih banyak aku lakukan. Karena kalian, aku menjadi sadar bahwa tangis dan tawaku kutunjukkan pada orang yang tepat.

Sekali lagi, terima kasih.

Rabu, 25 September 2019

Untuk Kamu,

Haai!

Apa kabar? Semoga kabarmu baik dan senantiasa berada dalam lingkaran cinta-Nya. Aku alhamdulillah baik. Yaaa sebenarnya hari ini cukup melelahkan untukku. Kakiku sakit, mungkin karena sudah lama tidak berolah raga. 

Sebelum aku menulis lebih jauh, satu hal yang harus kamu tau adalah bahwa aku sedang berusaha untuk memaafkanmu. Aku hanya tidak ingin kamu merasa terbebani oleh kesalahanmu dan membuatmu tidak maju, overthinking, murung, dan kehilangan semangat dan senyumanmu. Jangan khawatir, aku yakin beberapa saat lagi aku pasti bisa memaafkanmu, jadi bertahanlah untuk tidak menangis malam-malam sebelum tidur. Aku harap, jika waktu itu tiba, kamu bisa benar-benar mencintai dirimu sendiri.

Oh ya, dengar-dengar kamu belakangan ini sibuk ya? Tetap jaga kesehatan ya! Aku tau kamu kuat, kamu juga sudah pernah melewati yang lebih susah dari ini. Jangan pernah menyerah karena hal kecil, jangan takut untuk mencoba. Yang paling penting, mungkin akan susah untuk kamu lakukan, tapi tolong jangan pernah membuat asumsi negatif atau negative thinking di awal. Itu membuatmu takut untuk mencoba dan memulai, padahal banyak hal-hal penting yang harus kamu kejar, tapi karena itu, kamu jadi di situ-situ aja. Tolong juga, jangan boros! Daripada uangnya dibuat beli jajanan, mending ditabung untuk keperluan mendadak. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama yang membuat ayahmu kecewa sama kamu. Tolong.

Aku tau kamu sangat senang berorganisasi dan tidak suka diam. Tapi, pahami batas wajar dirimu. Jangan sampai amanah yang kamu 'iya' kan diawal mendzolimi orang lain dengan kamu tidak bekerja maksimal di dalamnya. Kamu sudah pernah mengalami bekerja dengan orang yang seperti itu, kan? Jadi jangan pernah membuat orang lain berada pada posisi yang sama sepertimu. Aku percaya bahwa kamu seorang yang pekerja keras, tapi jangan mnegambil alih semuanya sendirian juga. Biarkan orang lain mengerjakan apa yang menjadi job description nya. Selain itu membuatnya meremehkan tugas, suatu saat jika kamu merasa lelah dan capek, kamu akan malah membebani dirimu sendiri dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak ingin apa yang kamu pilih dan sukai menjadi beban untuk dirimu sendiri hanya karena kamu merasa bekerja berlebihan atau bekerja tidak sesuai porsi.

Semangat juga untuk kuliah kita, ya! Semoga sekarang dan kedepannya kita sama-sama bisa belajar dnegan baik dan hasil sesuai target! Setelah ini UTS, kan? Jadi, tolong siapkan dengan baik. Jangan sampai muncul rasa kecewa dan menyesal saat mengerjakan UTS karena ada beberapa soal yang terlewat tidak dipelajari. 

Terakhir, untuk hal-hal yang cukup toxic buat kamu. Please, tinggalin aja. Aku tau pasti susah, tapi bukan berarti tidak mungkin kan? Aku yakin kamu bisa karena kamu pernah di fase yang sama juga. Banyak berdoa pada Allah, supaya Allah beri kekuatan dan kemudahan untuk semuanya. Jangan pernah takut untuk melangkah. Biarkan dirimu menjadi dirimu.

Terima kasih ya sudah sangat berusaha. Terima kasih juga untuk setiap pilihan yang sudah mengantarkan pada titik ini. Maaf jika banyak membuat kesalahan. Tapi aku harap, dengan kesalahan-kesalahan yang kulakukan di masa sekarang bisa membuatmu tegar dan kuat di masa yang akan datang. Karena aku yakin, pada setiap sesuatu yang terjadi, ada hikmah yang bisa diambil dan dijadikan pelajaran.

Selamat berjuang, Hila!


Sincerely, Hila


Senin, 27 Mei 2019

Welcome Back!

Sepertinya jiwaku mulai sakit, merindukan sesuatu yang hanya aku sendiri yang dapat memenuhinya...
Bismillah, di sisa hari di bulan penuh berkah ini, mari menebar kebaikan-kebaikan kecil, yang siapa tahu dia kunci yang membawa kita ke surga-Nya...
Selamat dan semangat datang kembali, Hila!

Sabtu, 24 November 2018

Cukup

Entah kenapa menjadi familiar dengan yang namanya kecewa karena berharap lebih pada manusia membuatku ingin berhenti untuk berharap pada sesuatu selain-Nya. Memang harusnya seperti itu kan ya? Tapi kenapa rasanya susah buat nggak berharap...

Apa karena aku merasa apa yang kulakukan untuknya itu hal yang besar, jadinya aku berharap dia akan melakukan hal yang sama untukku?

Rasanya perasaan ini sudah terjadi untuk kesekian kalinya dan aku jadi mikir "apa ini kode ya dari Allah, biar aku nggak berharap lebih sama manusia? Apa Allah cemburu ya karna aku berharap pada selain-Nya?" 

Tapi kalo dilihat-lihat, memang belakangan ini aku jadi memprioritaskannya melebihi kegiatanku yang lain, bahkan aku berpikir bahwa harus ada waktu yang kusediakan untuknya disela-sela kegiatanku. Tapi lagi-lagi, yang muncul malah rasa kecewa karena toh dia ternyata tidak pernah menjadikan aku prioritasnya wkwkwkwk...

Drama deh wkwkwk...

Baiklah Hila, harusnya kamu sudah cukup paham dan mengerti bahwa sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik. Cukup berhenti sampai disini saja...

Mari mengingat-ingat bahwa semakin berharap maka semakin sedikit yang didapat. Harus ada ruang, harus ada ruang untuk memaafkan dan kekecewaan. Karena diri sendirilah yang membuat rasa itu ada dan hadir, diri sendirilah yang memberi kesempatan rasa kecewa hadir dengan membuat harapan lebih. Jadi, cukup. Cukup sampai di sini saja.......

Jumat, 23 November 2018

Pintu Baruku

Bismillah....

Halo teman-teman pembaca setia blog hila, entah mulai dari awal atau hanya membaca sekilas. 

Banyak yang sudah aku lalui selama beberapa bulan aku nggak pernah nulis di blog, mulai dari jadi ketua pelaksana di studi yang sebelumnya sampai sekarang sudah jadi mahasiswa baru lagi dan akan memasuki minggu-minggu ujian akhir semester 1 di perkuliahan yang baru.

Rasa-rasanya baru kemarin aku berjuang penuh drama untuk bisa jadi mahasiswa kedokteran dan sekarang aku jadi mahasiswa kesehatan masyarakat. Untuk kedua kalinya aku berada di tempat yang tidak pernah terbayangkan akan jadi kendaraanku untuk mencapai suksesku, sukses dunia akhirat maksudnya.... Tapi seperti caption postingan instagramku "Sometimes life closes doors because it's time to move forward. And even if you fall short, keep going, keep growing--because the struggle is not found on the path, it is the path. In the end I realize that we might not end up exactly where we intended to go, but we will eventually arrive precisely where we need to be. Heuheuu💪"
Jadiii, aku berusaha memahami dan mencoba mengartikan setiap sesuatu yang terjadi padaku, pasti ada suatu alasan kenapa harus begitu dan harus begini.

Daaaan, aku ingin sekali-kali mengapresiasi diriku yang sudah berjuang sejauh ini, untuk berada di titik saat ini. Terima kasih hila, kamu sudah mengusahakan yang terbaik. Mungkin belum jalannya (atau bukan jalannya?), yang pasti harus kamu tau adalah Allah selalu ada dan Akan selalu bersamamu, hanya kamu yang harus menemukan jalannya dan mengetuk pintu langit agar doamu tak hanya menjadi 'aamiin'mu sendiri.

Aku berharap, di jalan yang saat ini kutempuh, untuk setiap jatuh dan bangunku, selalu ada tangan yang datang sebagai perantara pertolongan dari-Nya, karena dengan begitu, aku yakin bahwa disetiap kesulitan ada kemudahan.

Bismillahirrahmanirrahim, untuk amanah baru yang harus kujalani selama 4 tahun (insya Allah), semoga selalu mendapat ridha dan rahmat-Nya, aamiin....

Jumat, 02 Maret 2018

Aku berharap, ketika rasa itu hadir aku benar benar hanya akan menceritakan semua padaNya...

Senin, 05 Februari 2018

Ayo Lari

Matahari masih malu-malu menampakkan diri ketika aku mulai bersiap untuk diriku. Sayangnya aku sudah harus berlomba dan berusaha menang melawan daya tarik kasurku yang selama dua bulan belakangan ini selalu menemaniku. Aku geleng-geleng pelan untuk sebuah keajaiban yang kutemukan ada pada diriku: sebuah semangat setelah semua drama yang kubuat sendiri.

Beberapa minggu yang lalu, aku dan kegalauanku tentang perpisahan perlahan mulai mengalah dengan kondisi yang ada--lebih tepatnya aku mulai menerimanya sebagai batu yang harus kuloncati--aamiin, yang terbaiklah pokoknya. Aku mulai biasa saja dengan rutinitasku, mungkin sedikit kaget karena jadwal seharian penuh yang mirip dengan jadwal anak SMA. Tapi yasudahlahya, mari menjalani dengan bismillah.

Semangat semester 2!!💪💪